Menguji QWERTY Phone Merek Lokal
Fenomena BlackBerry yang diikuti produk merek lokal mementahkan pendapat bahwa ponsel QWERTY tidak akan popular di Tanah Air. Layanan social networking dan chatting menjadi pemicunya.
Mungkin saat ini kita semakin banyak melihat pengguna ponsel memelototi layar ponselnya sembari memencet kedua jempol ke keypad. Mimik muka pengguna sontak bisa berubah, kadang tersenyum menit berikutnya bisa terlihat marah besar tanpa ketahuan apa penyebabnya.
Itulah kini generasi thumboard –memencet tombol QWERTY dengan dua jempol- yang tumbuh bak cendawan di musim hujan. Terlebih ada situs jejaring sosial semacam Facebook dan chatting yang membuat mata sulit hijrah melotot dari layar ponsel. Fenomena ini memang diawali oleh BlackBerry dan lantas diikuti oleh produk-produk lain sejenis terutama oleh vendor merek lokal. Mereka giat mengiklankan produk mereka tak kalah dari BlackBerry untuk beberapa hal seperti chatting atau membuka Facebook. Malah mereka punya diferensiasi, bisa dua SIM Card sekaligus, sesuatu yang tidak ditawarkan oleh BB.
Kami sengaja tidak memberi nama sebagai ponsel itu sebagai ponsel China Berry atau Berry-Berry yang lain, karena faktanya ada yang tidak meniru secara fisik BlackBerry namun merek lain. Karena itu, pendekatan yang kami lakukan adalah sebagai ponsel QWERTY. Meskipun memang tombol QWERTY sudah lama ditemukan oleh Christopher Latham Sholes pada 1875, RIM (pemilik merek BlackBerry) yang meluncurkan ponsel dengan QWERTY Keyboard pertama pada 1998 yakni RIM 850/950. Tetapi kemudian tombol QWERTY kemudian secara luas diadopsi ke PDA dan ponsel cerdas seperti saat ini. Uniknya, di Indonesia sendiri QWERTY phone pernah diperkirakan tidak akan diadopsi secara luas karena susah digunakan, tetapi bukti sekarang berkata lain. Malah yang bukan QWERTY dianggap bukan ponsel yang cerdas.
Catatan lain yang menjadi concern kami adalah fitur yang menyertai ponsel QWERTY ini. Akses internet, aplikasi Facebook, dan chatting menjadi perlengkapan wajib yang minimal harus dimiliki oleh ponsel yang mengklaim diri sebagai ponsel QWERTY. Memang untuk soal ini BlackBerry sulit dibandingkan karena mereka sejak awal telah mengembangkan environment sendiri lewat BES dan BIS (BlackBerry Enterprise/Internet Services). Tapi setidaknya, ponsel merek lokal tetap bisa digunakan untuk mengakses situs jejaring sosial dan chatting. Apalagi, menilik data dari Alexa.com, Facebook pun kini bertengger di urutan teratas situs yang paling banyak dikunjungi oleh orang Indonesia. Ini artinya, potensi membuka Facebook dari ponsel juga menjadi peluang besar bagi vendor yang ingin bermain menggarap pasar ini.
Nah, di edisi ini SELULAR akan menguji performa lima ponsel QWERTY lokal dengan pendekatan fitur yang telah kami kembangkan di rubrik test. Kelima ponsel itu yakni Asiafone AF903, HT Mobile H30, Micxon S900, Mito 8100, dan Nexian NX-G Series. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang jelas, bagi Anda yang ingin memilih ponsel QWERTY keluaran vendor lokal, semoga catatan dari kami bisa memberikan manfaat, Selamat membaca.
selular.co.id





0 Responses to "Menguji QWERTY Phone Merek Lokal"
Post a Comment